TOP 5 AI TRENDS THAT WILL RULE INDONESIA IN 2020

TREND 1 : Use of AI to personalize messages that drive sales.

Most of us get SMS, Emails, In-app notifications, Web-push from brands that are very generic. Most of the times we ignore these messages and consider them as SPAM. These “one size fits all” messages are not engaging and don’t result in effective sales!

Hyper personalization of digital marketing helps brands stand out and increase conversions with audiences. We see more and more brands collecting valuable insights on individual consumer behaviour and are using AI to deliver highly tailored messages to their customers.

This form of marketing is a paradigm shift from product-centric to customer-centric marketing. Where engaging with the right customers, at the right time, with the right content, through the right channel drives sales.


TREND 2 : Making bots more emotive.

Chatbots are here to stay and they are emerging across major industries in Indonesia. However, many of these chatbots have frequent fallback conditions.

This is because these chatbots don't have the ability to have empathy with their human users. Humans engage with each other by understanding cultural nuances such as basa basi and understanding the various emotions in a conversation.

Chatbots that are trained to interpret human emotions and cultural nuances will outperform standard chatbots. This will reduce fall-backs and significantly improve customer experience and satisfaction scores.



TREND 3 : Use of AI in offline retail stores  

Offline stores are increasingly under pressure due to the strong emergence of Online stores offering attractive promotions.
Also, Loyalty programs run by Offline stores have low membership rates and therefore re-targeting them is challenging. On the other hand Online stores use data to re-target customers and increase their sales.

CCTV’s that are common in Offline stores are primarily used as security devices.
Using EDGE computing, IOT (Raspberry Pi/NVIDIA Jetson) and CCTV images, customer face ID’s are extracted to create a database of visitors who visit stores. This metadata is processed to segment customer purchase history and a customized promotion is created for each customer.
This “In The MOMENT Promotion (IMP)” is pushed via a message to an android APP or POS device of the Store manager, who then can approach the customer with a customised promotion.

TREND 4 : Rise of NLG to create engaging digital content

When it comes to creating digital marketing content for brands, there is a lot of guess work that is done to determine what are the words that can be most impactful in terms of inducing sales and creating a positive impact on the brand.

Graph theory when combined with Sentiment Analytics on customer reviews, chatbot conversations, social media data can help identify Key Themes and Word Correlations.

Natural Language Generation or NLG algorithms then helps to determine sentence recommendations that maximizes positive sentiment & increase sales. So no more guess work is involved!


TREND 5 : Infusing business sense into algorithms

Many CEO's across Indonesia complain of the lack of good analytics within their organisations. This despite having teams of Data scientists within their organizations. It doesn't matter if you have 650 data scientists sitting in another country, crunching algorithms to solve business issues.

Data Scientists, both offshore and locally based ones, need to not just investigate primary data, they need to have the skill-sets to combine data with secondary data assets. Additionally, they need to know the cultural nuances of Indonesia . For example, how do people in Jakarta differ from those in Surabaya. This comes with experience and advice from subject matter experts.

We need to build AI that is less Artificial and more Intelligent! This is what we mean by business sense and this is what algorithms need to have.



TOP 5 AI TRENDS THAT WILL RULE INDONESIA IN 2020 (BAHASA INDONESIA)

TREND 1 : Use of AI to personalize messages that drive sales.

Sebagian besar dari kita mendapatkan SMS, Email, pemberitahuan In-app push maupun Web-push dari brand-brand yang sangat umum. Seringkali kita mengabaikan pesan-pesan ini dan menganggapnya sebagai SPAM. Pesan - pesan "satu format untuk semua" ini sangat generik, tidak menarik dan tidak akan pernah mendorong angka penjualan!

Personalisasi pemasaran digital yang customized dapat membantu sebuah brand terlihat lebih menonjol dan mampu meningkatkan konversi penjualannya.Kami melihat semakin banyak brand yang mengumpulkan informasi berharga tentang perilaku individual konsumen menggunakan AI untuk menyampaikan pesan yang sangat personal yang disesuaikan dengan pelanggan mereka.

Bentuk pemasaran ini merupakan perubahan paradigma dari pemasaran, yang selama ini lebih fokus terhadap produk menjadi pemasaran yang lebih fokus terhadap pelanggan - di mana bentuk pemasarann ini lebih terfokus kepada pelanggan yang tepat, pada waktu yang tepat dan dengan konten yang tepat, melalui media yang tepat pula guna mendongkrak penjualan


TREND 2 : Making bots more emotive.

Akhir akhir ini chatbot semakin banyak bermunculan di berbagai industry. Banyak sekali orang yang secara sadar atau tidak sadar berkomunikasi dengan perusahaan besar melalui chatbot. Namun seringkali chatbot masuk ke dalam kondisi bingung, dalam arti berhenti merespon percakapan dengan user. Hal ini terjadi karena chatbot tidak mampu berempati seperti manusia. Chatbot tidak mampu mengerti emosi & nuansa budaya.

Kita sebagai manusia berkomunikasi dengan manusia lainnya melalui pemahaman akan emosi dan nuansa budaya. Saat berkomunikasi dengan robot hal itu tidak terjadi.
AiSensum membuat suatu algoritma yang memungkinkan chatbot untuk mengerti emosi manusia & nuansa budaya. Chatbot yang mengerti kedua hal ini akan menjadi chatbot yang jauh lebih superior.
Dengan chatbot yang jauh lebih superior interaksi dengan pelanggan akan menjadi lebih baik, komunikasi antara perusahaan dengan konsumennya akan menjadi jauh lebih lancar. Intinya akan meningkatkan kepuasan pelanggan & meningkatkan overall customer experiences.



TREND 3 : Use of AI in offline retail stores  

Industri offline Store saat ini semakin berada di bawah tekanan karena munculnya toko - toko online yang menawarkan promosi menarik. Selain itu, program Loyalitas yang dijalankan oleh toko Offline juga memiliki tingkat keanggotaan yang sangat rendah oleh karena itu Proses penargetan ulang menjadi sebuah hal yang sangat menantang.
Di sisi lain Toko online saat ini juga sudah menggunakan data yang ada untuk menargetkan kembali pelanggan mereka dengan lebih baik guna mendongkrak penjualan yang sudah ada.
Oleh karena itu untuk mengejar ketertinggalan toko – toko offline, kami menggunakan teknologi EDGE computing, IOT (Raspberry Pi / NVIDIA Jetson) yang dapat di implementasikan di setiap CCTV yang selama ini sudah ada disebagian besar toko offline, namun hanya digunakan sebagai komponen keamanan saja. Kami dapat mengolah data CCTV tersebut agar dapat menghasilkan basis data yang kompeten mengenai pelanggan - pelanggan yang telah mengunjungi toko. Metadata inilah yang kemudian akan kami proses untuk membuat pengelompokkan riwayat pembelian dan promosi khusus yang dapat diaplikasikan ke tiap tiap pengunjung yang datang ke toko. Hal inilah yang kami sebut sebagai "In The MOMENT Promotion (IMP)" yang pengaplikasiannya dapat diimplementasi dengan menggunakan teknologi Android atau perangkat POS yang dimiliki oleh manajer toko yang kemudian dapat mendekati pengunjung dengan promosi yang telah tercantum di aplikasi tersebut

TREND 4 : Rise of NLG to create engaging digital content

Ketika membuat konten pemasaran digital untuk sebuah brand, saat ini ada banyak proses “tebak – tebakan” dalam menentukan kata-kata apa yang paling dapat berdampak dalam hal mendongkrak penjualan dan menciptakan dampak positif pada brand tersebut.

Grafik yang dikombinasikan dengan sentimen analysis yang terdapat pada ulasan pelanggan, percakapan chatbot dan data dari media social dapat membantu mengidentifikasi tema utama, dan korelasi kata. Algorithms Natural language generation atau NLG kemudian dapat digunakan untuk membantu menentukan rekomendasi kalimat yang dapat memaksimalkan sentimen positif dan juga mendongkrak penjualan. Jadi tidak ada lagi proses tebak -tebakan yang perlu dilibatkan dalam proses pembuatan konten !!


TREND 5 : Infusing business sense into algorithms

Banyak CEO di seluruh Indonesia mengeluh tentang kurangnya analisa yang baik dalam organisasi mereka. Hal ini mengilhami mereka untuk memiliki tim Data Scientist sendiri. Tidak masalah jika Perusahaan Anda memiliki 650 orang data scientist yang beroperasi di negara lain yang bertugas untuk mengolah algoritma untuk memecahkan masalah bisnis di organisasi anda. Namun para data scientist, baik yang berbasis di luar negeri maupun di dalam negri juga harus mampu mengolah data primer dan menggabungkannya dengan aset data sekunder dan Mereka juga harus mampu mengetahui nuansa budaya lokal dan perbedaan antar kota yang ada di Indonesia.
Contoh: Bagaimana masyarakat di Jakarta berbeda dari masyarakat di Surabaya. Umumnya hal hal seperti ini merupakan hal yang hanya dapat diperoleh dari pengalaman Para ahli yang sudah lama berkecimpung di bidangnya.
Jadi kita perlu membangun AI yang lebih sedikif artifisial namun jauh lebih cerdas. Inilah yang kami maksud dengan bisnis sense dan hal hal inilah yang harus dimiliki oleh algorithms)

Jadi kita perlu membangun AI yang less artificial tapi lebih mengetengahkan intelligence-nya. Inilah yang kita maksud dengan business sense dan hal-hal seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh sebuah algoritma.